Samarinda – Kalimantan Timur saat ini menghadapi tantangan serius terkait keadilan sosial dan ekologis, terutama menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2024. Dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), isu lingkungan hidup semakin mendesak untuk diperhatikan. Degradasi lingkungan yang terjadi, seperti pencemaran air, udara, dan tanah, serta penggusuran komunitas adat, menunjukkan perlunya pemimpin yang memiliki komitmen kuat terhadap keadilan sosial dan ekologis.
Lebih dari 13,83 juta hektar lahan di Kaltim telah dikapling untuk industri ekstraktif, yang berpotensi merusak ekosistem lokal. Pembangunan IKN, meskipun dicanangkan sebagai kota masa depan yang hijau, justru memperburuk kondisi lingkungan. Aktivitas konstruksi masif menyebabkan peningkatan polusi udara dan penggusuran masyarakat adat yang mengandalkan hutan untuk kehidupan mereka. Hal ini menciptakan ketidakadilan sosial, di mana hak-hak masyarakat terabaikan demi kepentingan pembangunan yang tidak berkelanjutan.
Dalam konteks ini, penting untuk dicatat bahwa kedua pasangan calon (paslon) gubernur Kalimantan Timur dalam Pilkada 2024 tampaknya belum menunjukkan kepekaan dan pemahaman yang memadai terkait pentingnya keadilan sosial dan ekologis.
Meskipun debat perdana sudah membahas tema “penguatan fondasi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat,” belum ada indikasi kuat bahwa isu-isu keadilan sosial dan ekologis akan menjadi fokus utama. Harapan masyarakat akan komitmen calon terhadap isu lingkungan masih belum terpenuhi. Banyak pertanyaan kritis tentang bagaimana mereka akan menangani masalah pencemaran dan penggusuran komunitas adat tidak mendapatkan jawaban memadai.
Kalimantan Timur menghadapi berbagai tantangan lingkungan yang serius, termasuk lebih dari 13,83 juta hektar lahan yang telah dikapling untuk industri ekstraktif, 47 korban jiwa akibat lubang tambang sejak 2011, pencemaran minyak berulang di perairan, serta penggusuran komunitas adat yang kehilangan mata pencaharian mereka. Ketidakpekaan paslon terhadap isu-isu ini menunjukkan kurangnya komitmen terhadap keadilan sosial dan ekologis yang sangat dibutuhkan untuk pembangunan berkelanjutan di Kalimantan Timur.
Pemilih perlu mempertimbangkan hal ini dengan serius, karena pemimpin yang tidak memahami pentingnya keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan berpotensi memperburuk kondisi ekologis dan kesejahteraan masyarakat di masa depan. Dalam menghadapi pemilu ini, penting bagi masyarakat untuk memilih pemimpin yang tidak hanya fokus pada pembangunan ekonomi tetapi juga peduli terhadap keadilan sosial dan kelestarian lingkungan.
Seruan kepada masyarakat Kalimantan Timur mari kita bersama-sama menuntut agar calon pemimpin kita memiliki visi holistik yang mencakup keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan sosial. Kita harus aktif dalam menanyakan komitmen mereka terhadap isu-isu ini selama kampanye dan memastikan bahwa suara kita didengar. Hanya dengan pemimpin yang benar-benar peduli terhadap masa depan lingkungan dan kesejahteraan sosial, Kalimantan Timur dapat mencapai tujuan pembangunan yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh rakyatnya.
Dengan demikian, saatnya bagi kita sebagai masyarakat untuk bersatu dalam memilih pemimpin yang tidak hanya berbicara tentang pembangunan tetapi juga berkomitmen pada keadilan sosial dan perlindungan lingkungan hidup.















