KUKAR – Desa Rapak Lambur di Kecamatan Tenggarong mulai menunjukkan keseriusannya dalam membangun sektor pertanian sebagai tulang punggung ekonomi desa. Upaya ini tak hanya untuk mencukupi kebutuhan lokal, tetapi juga mendukung ketahanan pangan tingkat kabupaten.
Lahan sawah menjadi sumber utama kehidupan sebagian besar warga. Dari total 800 hektare yang dimiliki, sekitar 500 hektare telah berproduksi aktif. Sementara sisanya masih belum digarap secara optimal karena terkendala akses dan dukungan teknis.
Kepala Desa Rapak Lambur, Muhammad Yusuf, mengatakan bahwa petani di wilayahnya sudah memiliki kemampuan bertani yang memadai, tetapi dibutuhkan dukungan infrastruktur agar produktivitas meningkat.
“Luas lahan pertanian sawah di Desa Rapak Lambur ini sekitar 800 hektare. Yang produktif ada 500 hektare, sedangkan 300 hektare masih belum terbuka,” ujarnya, Minggu (29/6/2025).
Potensi besar ini menjadi modal penting untuk mewujudkan desa sebagai pusat produksi beras di Kukar. Pemerintah desa pun telah menyusun rencana bersama petani guna memperluas lahan tanam dan memperbaiki pola budidaya.
Selain sawah, terdapat komoditas tambahan seperti durian yang tumbuh di beberapa lahan kebun. Namun, menurut Yusuf, hasil dari kebun tersebut belum bisa dijadikan tumpuan ekonomi.
“Selain sawah memang ada kebun durian, tapi durian ini hanya sampingan. Sawah tetap jadi andalan warga untuk mencukupi kebutuhan hidup,” jelasnya.
Ia juga berharap dukungan dari pemerintah kabupaten, khususnya dalam bentuk pembukaan lahan tidur dan akses irigasi. Dukungan semacam ini dinilai sangat dibutuhkan untuk mendorong peningkatan hasil tani. “Insya Allah dengan adanya program Pak Bupati, pembukaan lahan pertanian akan segera berjalan,” tambah Yusuf.
Rencana strategis desa kini diarahkan untuk menjadikan pertanian sebagai sektor unggulan yang dikelola secara berkelanjutan. Penguatan kelompok tani serta pelatihan teknis mulai diintensifkan untuk meningkatkan daya saing.
Pemerintah desa pun aktif membangun komunikasi dengan OPD teknis agar sinergi antara kebijakan daerah dan kebutuhan lapangan dapat menyatu dalam satu arah. “Mudah-mudahan ke depan Rapak Lambur bisa benar-benar jadi lumbung pangan di Kukar,” tutup Yusuf. (Adv)














