PADANG PANJANG – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melakukan kunjungan kerja ke UPTD Puskesmas Kebun Sikolos di Kota Padang Panjang, Sumatera Barat, pada Jumat (7/10/2024). Kunjungan ini dipimpin oleh Kepala Dinkes Kutim, dr Bahrani Hasanal, yang menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat dari Dinas Kesehatan Kota Padang Panjang. Tujuan utama kunjungan ini adalah untuk mempelajari strategi layanan kesehatan yang berhasil diimplementasikan di Puskesmas Sikolos guna diadaptasi di Kutai Timur.
“Harapannya, kami bisa mengamati, meniru, dan memodifikasi apa yang sudah diterapkan di Kota Padang Panjang. Ini yang nantinya akan kami coba terapkan di Kutai Timur,” ujar Bahrani.
Dengan kondisi geografis yang luas dan beragam, Kutai Timur menghadapi tantangan besar dalam distribusi layanan kesehatan. Bahrani menekankan bahwa luas wilayah Kutim lebih besar daripada provinsi Jawa Barat dan Banten, sehingga membutuhkan solusi inovatif untuk memastikan pemerataan layanan kesehatan.
“Kabupaten Kutai Timur memiliki 21 puskesmas, namun untuk mencapai satu puskesmas saja, bisa memakan waktu berjam-jam. Karena itu, kami berharap dapat memperluas jaringan pelayanan kesehatan di masa mendatang. Saat ini, peningkatan pelaporan sudah cukup baik dengan adanya program DPPM (District Public Private Mix),” tambahnya.
Sebagai langkah peningkatan surveilans kesehatan berbasis laboratorium, Bahrani menjelaskan bahwa Kutim telah mengoperasikan Tes Cepat Molekuler (TCM) di empat puskesmas dan satu rumah sakit untuk mempercepat deteksi tuberkulosis (TB). “Saat ini, kami memiliki TCM di empat puskesmas dan satu rumah sakit. Ke depannya, kami berencana meningkatkan pelayanan dengan teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction) dan rontgen (X-Ray) untuk mendeteksi penyakit dengan lebih detail dan tepat,” ujarnya.
Bahrani juga menguraikan empat kebijakan utama Kementerian Kesehatan untuk eliminasi TB. Langkah pertama adalah memperluas jejaring fasilitas kesehatan dan meningkatkan partisipasi dalam pencatatan serta pelaporan data kesehatan. Program DPPM menjadi upaya penting dalam memperkuat sinergi antara pihak swasta dan pemerintah.
Langkah kedua adalah memperluas surveilans berbasis laboratorium melalui penyediaan fasilitas TCM di beberapa puskesmas dan rumah sakit. Strategi ini bertujuan mempercepat deteksi kasus TB, terutama di daerah yang sulit dijangkau.
Strategi ketiga adalah melibatkan penyintas TB dalam mengedukasi pasien baru agar lebih patuh dalam menjalani pengobatan. “Pentingnya edukasi ini adalah bagian dari pendekatan yang berkelanjutan dan berbasis komunitas,” kata Bahrani.
Langkah keempat adalah mendorong kebijakan pemerintah untuk pengembangan vaksin TB yang lebih efektif sebagai solusi jangka panjang. “Intinya, strategi ini akan terus dikembangkan, dan kami akan berusaha mengadopsi berbagai metode yang berhasil diterapkan di daerah lain untuk diterapkan di Kutai Timur,” tutupnya.
Dengan langkah-langkah ini, Bahrani optimistis bahwa pelayanan kesehatan di Kutim akan semakin merata dan berkualitas, memberikan akses yang lebih baik bagi masyarakat di seluruh kabupaten. (adv)















