YOGYAKARTA – Dinas Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (Diskop UKM) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) melaksanakan kunjungan studi tiru ke Yogyakarta beberapa waktu lalu. Kegiatan ini bertujuan memperkuat pemberdayaan, pengembangan koperasi, serta meningkatkan kualitas layanan bagi pelaku usaha di Kutim. Kunjungan berfokus pada pembelajaran inovasi dan keunggulan pelayanan yang telah diterapkan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terutama melalui program unggulan Klinik Koperasi Sehat.
Pada hari pertama, rombongan yang dipimpin oleh Kepala Diskop UKM Kutai Timur, Teguh Budi Santoso, diterima langsung Kepala Bidang Koperasi dan UKM Provinsi DIY, Kepala Bidang Usaha Mikro Dinas Koperasi dan UKM DIY Tatik Ratnawati, serta Fungsional Pengawas Koperasi Muda Purnama Setiawan. Dalam kesempatan itu, Teguh didampingi Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kutai Timur Aji Wijaya, Sekretaris BRIDA Kutai Timur Jarnoko, serta Kepala Bidang Kelembagaan UMKM Kutai Timur Firman Wahyudi.
Salah satu fokus utama kunjungan adalah Klinik Koperasi Sehat, sebuah program berbasis riset yang menawarkan pendampingan intensif untuk meningkatkan kualitas pengelolaan koperasi. Program ini terbukti berhasil mengangkat kualitas koperasi di Yogyakarta melalui pendekatan berbasis data dan sistematis.
“Kami sangat tertarik dengan pendekatan Klinik Koperasi ini karena terbukti dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan koperasi,” ujar Teguh.
Rombongan dari Kutim juga berkesempatan bertemu Tatik Ratnawati dan Purnama Setiawan, Fungsional Pengawas Koperasi, yang memaparkan pengalaman DIY dalam mendukung UMKM lebih adaptif terhadap perubahan pasar. Ide-ide yang didapat dari studi tiru ini nantinya akan diterapkan di Kutim.
Selama empat hari, para peserta diajak mengunjungi berbagai UKM di Yogyakarta. Kegiatan ini untuk mempelajari pola pembinaan, inovasi produk, serta pendekatan pemasaran yang mendukung pertumbuhan UMKM di wilayah DIY.
Teguh Budi Santoso mengungkapkan alasan memilih Dinas Koperasi dan UKM DIY sebagai tujuan studi tiru. Menurutnya, Dinas Koperasi dan UKM DIY berhasil mengelola koperasi dan UMKM dengan jumlah signifikan serta menawarkan berbagai program inovatif. Terdapat sekitar 1.700 koperasi di DIY, dengan 800 koperasi aktif yang mendapat pembinaan langsung dari Dinas Koperasi dan UKM DIY. Jumlah UMKM dan pedagang di Yogyakarta juga sangat banyak.
“Hal ini menunjukkan kuatnya sektor koperasi dan UMKM DIY,” kata Teguh.
Teguh menambahkan program unggulan DIY yang menargetkan produk UMKM premium juga menjadi daya tarik utama studi tiru kali ini. Program tersebut terbukti sukses membantu UMKM menghasilkan produk berkualitas yang mampu bersaing di pasar nasional dan internasional.
“Kami berharap bisa mengadopsi konsep ini untuk diterapkan di Kutai Timur,” ujar Teguh.
Sementara itu, Kepala Bidang Koperasi dan UKM DIY, Setyo Hastuti, menjelaskan kepada peserta kunjungan berbagai inovasi layanan, termasuk Klinik Koperasi yang sudah terintegrasi dengan sistem digitalisasi. Aplikasi “Si Bakul Yogya” (Sistem Informasi Pembinaan Koperasi dan Pelaku Usaha) telah mempermudah pantauan dan pembinaan koperasi serta UMKM di DIY.
“Aplikasi ini sangat membantu kami dalam menyediakan pembinaan yang terstruktur dan terarah,” ungkap Setyo. (adv)















