TENGGARONG – Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Kutai Kartanegara menegaskan bahwa pelestarian olahraga tradisional hanya akan berkelanjutan jika dikelola melalui kolaborasi aktif antara pemerintah dan komunitas lokal. Dispora menempatkan diri sebagai fasilitator, bukan pengambil alih kegiatan, agar olahraga tradisional tetap tumbuh sesuai akar budaya masyarakat.
Kabid Pembudayaan Olahraga Dispora Kukar, Aji Muhammad Ari Junaidi, menjelaskan bahwa dukungan pemerintah diberikan berdasarkan komitmen komunitas, bukan berdasarkan wilayah tertentu. Komunitas yang aktif menyusun dan mengajukan program disebut menjadi prioritas dalam pembinaan.
“Tidak ada porsi khusus wilayah. Yang bergerak dan mengajukan permohonan, itulah yang kami fasilitasi,” tegas Ari.
Selama 2025, sejumlah daerah menunjukkan partisipasi kuat, seperti Loa Kulu, Loa Janan, Tenggarong, Loa Ipuh Darat, dan Sungai Bawang. Keaktifan ini, menurut Ari, membuktikan bahwa keberlangsungan budaya tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi butuh inisiatif masyarakat.
Dalam bentuk dukungan, Dispora menghadirkan hadiah perlombaan, doorprize, hingga kehadiran langsung saat event komunitas. Stimulus kecil tersebut dinilai mampu memicu antusiasme warga, terutama generasi muda yang belakangan lebih akrab dengan permainan digital.
“Strategi ini berhasil membuat event lebih ramai dan masyarakat tertarik mencoba berbagai permainan tradisional di daerahnya,” tambahnya.
Lebih dari sekadar hiburan, kegiatan olahraga tradisional juga menjadi ruang interaksi yang memperkuat ikatan sosial antarwarga. Dispora berharap kolaborasi ini melahirkan ekosistem yang lebih profesional dan komunitas yang semakin terorganisasi.
“Kami ingin olahraga tradisional tumbuh bukan hanya dimainkan, tapi juga menjadi bagian dari identitas Kukar yang dibanggakan,” tutup Ari.















