KUTAI KARTANEGARA – Air asin mulai masuk ke sejumlah wilayah pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, seiring perubahan kadar air di sungai. Kondisi ini kemudian memunculkan pertanyaan di tengah masyarakat, mengapa air asin yang melimpah tidak dimanfaatkan untuk membantu memadamkan kebakaran?
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkarmatan) Kabupaten Kukar, Fida Hurisani, menjelaskan bahwa persoalannya bukan karena air asin tidak mampu memadamkan api.
Menurut Fida, air asin pada dasarnya dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran, terutama pada kebakaran biasa yang tidak melibatkan bahan atau unsur kimia tertentu.
Namun, penggunaan air asin memiliki konsekuensi terhadap peralatan pemadam kebakaran yang umumnya dirancang menggunakan air tawar.
“Air asin sama air tawar itu sebenarnya dia punya spek sendiri. Karena mesin-mesin kita memang mesin air tawar. Kalau kita main di air asin ada risiko-risiko yang memang harus kita hati-hati dengan peralatan kita,” kata Fida saat diwawancarai, Selasa (1/9/2026).
Fida mengatakan, kandungan garam dalam air asin dapat mempercepat proses korosi pada sejumlah komponen mesin pemadam kebakaran.
Jika digunakan secara terus-menerus tanpa penanganan khusus, kondisi tersebut dapat memperpendek usia pakai peralatan, bahkan berpotensi menyebabkan kerusakan serius.
“Karena dia tingkat korosinya, pH-nya pasti akan merusak ke baling-baling, ke kipas, ke logam-logam selang kita,” ujarnya.
Menurut Fida, kondisi tersebut berbeda dengan penggunaan air tawar yang memang menjadi spesifikasi umum mesin pemadam milik Damkar Kukar.
Karena itu, ketika terjadi kebakaran dan sumber air tawar masih tersedia di sekitar lokasi, petugas memilih menggunakan sumber air tersebut.
Terlebih, dalam penanganan kebakaran lahan yang terjadi saat ini, Fida menyebut terdapat sumber air yang lebih dekat dibandingkan sungai.
“Untuk kejadian hari ini, memang titik air terdekat itu ada di atas, bukan di sungai. Makanya kita tidak ngapain jauh-jauh ngambil ke pinggir sungai. Sementara di lokasi-lokasi dekat lahan kebakaran itu ada kolam-kolam tambang yang bisa kita ambil airnya,” jelasnya.
Dengan demikian, penggunaan kolam bekas tambang sebagai sumber air bukan semata-mata karena Damkar Kukar menghindari air asin.
Pertimbangan utama lainnya adalah kecepatan pemadaman. Petugas harus memilih sumber air yang paling dekat dengan titik kebakaran agar proses pemadaman dapat dilakukan secepat mungkin.
Tetap Bisa Digunakan dalam Kondisi Darurat
Meski memiliki risiko terhadap peralatan, Fida menegaskan tidak ada larangan mutlak bagi petugas untuk menggunakan air asin.
Dalam kondisi darurat, ketika keselamatan manusia dan harta benda menjadi prioritas, peralatan dapat digunakan di luar kondisi idealnya.
“Dalam konteks emergency, nyawa manusia, keselamatan manusia, harta benda itu lebih utama daripada alat. Itu prinsip saya,” kata Fida.
Artinya, apabila kebakaran terjadi di kawasan pesisir dan air asin menjadi satu-satunya sumber air yang tersedia dalam jarak dekat, air asin tetap dapat digunakan untuk membantu proses pemadaman.
Namun, konsekuensi terhadap peralatan harus diperhitungkan.
Setelah digunakan, mesin dan peralatan pemadam harus segera dibilas secara menyeluruh agar kandungan garam tidak tertinggal pada komponen logam.
“Kalaupun harus terpaksa, kita cucinya harus berulang kali agar kandungan-kandungan garamnya itu tidak tertinggal menempel,” ujarnya.
Menurut Fida, kelalaian dalam proses pembersihan dapat mempercepat kerusakan peralatan.
“Umurnya akan pendek dibanding kita operasionalkan sesuai speknya, khusus air tawar. Umurnya tidak akan bertahan lama. Pasti ada gangguan, bahkan sampai kerusakan fatal,” katanya.
Unit Pemadam di Pesisir Lebih Rentan Korosi
Persoalan korosi menjadi perhatian tersendiri bagi Damkar Kukar karena sejumlah wilayah di daerah tersebut berada di kawasan pesisir.
Fida menyebut Muara Jawa dan Samboja sebagai wilayah yang memiliki karakter berbeda dibandingkan kawasan Kukar lainnya karena kedekatannya dengan laut.
Menurutnya, kendaraan pemadam yang beroperasi di kawasan pesisir juga lebih rentan mengalami korosi.
“Unit-unit pemadam kita yang rata-rata berasal dari Muara Jawa, Samboja itu rata-rata kualitas korosinya lebih tinggi daripada unit-unit kita yang berada di wilayah tengah, bahkan di hulu Mahakam. Itu beda,” tuturnya.
Karena itu, Damkar Kukar mulai memetakan kebutuhan peralatan yang memang dirancang untuk bekerja menggunakan air asin.
Fida mengatakan, saat ini sudah tersedia mesin pemadam dengan spesifikasi khusus yang dapat digunakan pada kondisi air asin.
Rencana penggunaan peralatan tersebut juga telah disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Kukar, termasuk dalam kaitannya dengan pembangunan atau peningkatan sistem penyediaan air di kawasan padat penduduk pesisir.
“Kita sudah lihat spek-spek mesin yang memang khusus untuk air asin. Sekarang sudah ada produk-produk yang memang mengkhususkan mesin-mesin yang bisa bekerja di situasi air asin yang tidak terlalu menimbulkan risiko besar,” katanya.
Namun, hingga saat ini Damkar Kukar belum memiliki mesin khusus tersebut.
“Belum,” ujar Fida.
Air Asin dan Air Tawar Sama-sama Bisa Memadamkan Api
Lantas, apakah air asin memiliki efektivitas yang berbeda dibandingkan air tawar ketika digunakan untuk memadamkan api?
Fida mengatakan, berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya, keduanya pada prinsipnya sama-sama dapat digunakan untuk memadamkan kebakaran biasa.
“Sepengetahuan kami sama. Dalam konteks api biasa, mungkin kebakaran pemukiman, tidak ada unsur kimianya, asal api kena air, dapat padam,” jelasnya.
Namun, kondisi berbeda apabila kebakaran melibatkan material tertentu yang memiliki karakter khusus.
Fida mencontohkan kebakaran yang melibatkan baterai litium yang membutuhkan penanganan berbeda dibandingkan kebakaran biasa.
“Beda kalau kita memadamkan baterai litium segala macam. Itu kelas-kelas kebakarannya berbeda,” katanya.
Karena itu, menurut Fida, persoalan utama penggunaan air asin bukan terletak pada kemampuan air tersebut dalam memadamkan api, melainkan dampaknya terhadap peralatan pemadam kebakaran.
“Tidak ada larangan. Prinsipnya begitu kita siram api dengan air. Api standar, bukan kandungan kimia atau jenis kebakaran yang tidak boleh disiram dengan air. Sah-sah saja. Cuma risikonya, umur alat-alat kita yang akan berpengaruh,” pungkasnya.












