KUKAR – Pemerintah Desa Ponoragan di Kecamatan Loa Kulu mulai merasakan dampak nyata perubahan iklim terhadap sektor pertanian dan perikanan yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat.
Banjir yang terjadi akibat cuaca ekstrem menyebabkan kerusakan serius, terutama pada kolam-kolam ikan warga.
Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, mengungkapkan bahwa lebih dari separuh wilayah desa dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan, sementara sisanya untuk pertanian dan hortikultura. Namun, kondisi cuaca yang tidak menentu membuat petani dan pembudidaya ikan bekerja di bawah tekanan.
“Banyak kolam rusak, ikan-ikan hanyut, bahkan indukan mati karena banjir yang datang tiba-tiba. Ini bukan masalah kecil,” ujar Sarmin, Rabu (21/05/2025).
Di tengah situasi tersebut, pemerintah desa berupaya meningkatkan ketahanan sektor pangan desa melalui penguatan kelompok tani dan kolaborasi lintas instansi. Kelompok-kelompok ini tidak hanya diberi pelatihan dan pendampingan teknis, tetapi juga difasilitasi dalam pengajuan bantuan.
Selain itu, peran Kelompok Wanita Tani (KWT) juga diperluas. Mereka dilibatkan dalam pengolahan hasil tani dan pengembangan usaha rumah tangga yang mampu menopang ekonomi keluarga di masa sulit.
“Perempuan punya peran besar, apalagi dalam menjaga stabilitas pangan rumah tangga,” kata Sarmin.
Sebagai respons terhadap ancaman iklim, Pemerintah Desa Ponoragan juga aktif berkoordinasi dengan berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) seperti Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas PU, hingga Dinas Lingkungan Hidup untuk mencari solusi jangka panjang.
Sarmin menegaskan bahwa alokasi Dana Desa (DD) dan Alokasi Dana Desa (ADD) tidak bisa lagi hanya bersifat rutinitas administratif, tetapi harus adaptif terhadap tantangan baru seperti perubahan iklim.
“Kami alokasikan minimal 20 persen dari dana desa untuk sektor pangan. Tapi tanpa partisipasi masyarakat, semua ini tidak akan cukup,” tegasnya.
Ia berharap, seluruh warga mulai menyadari bahwa ketahanan pangan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama.
“Kalau kita mau aman dari krisis, semua harus bergerak. Jangan nunggu banjir datang dulu baru bertindak,” tutup. (Adv)















