KUKAR – Sebuah jalan usaha tani yang menghubungkan Kecamatan Sebulu dan Muara Kaman kini menjadi pemicu geliat baru di sektor pertanian. Akses yang sebelumnya terbatas kini terbuka, membuka peluang perluasan lahan pertanian sekaligus menurunkan biaya produksi petani secara signifikan.
Camat Sebulu, Edy Fahruddin, menuturkan bahwa kehadiran jalan ini langsung berdampak terhadap aktivitas para petani. Dulu, kata dia, petani harus menempuh jalur berputar dengan ongkos tinggi, namun kini hasil panen bisa langsung dijangkau pasar lebih cepat.
“Dulu petani harus memutar jauh dan biaya angkutnya mahal. Sekarang distribusi jauh lebih cepat, dan hasil panen bisa langsung sampai ke pasar,” ujarnya, Jumat (13/6/2025).
Jalan usaha tani tersebut dibangun sebagai bagian dari pengembangan kawasan pertanian terpadu, melibatkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk kolaborasi dengan TNI melalui program ketahanan pangan nasional.
Sedikitnya 600 hektare lahan pertanian yang tersebar di dua kecamatan kini mulai dimaksimalkan untuk berbagai komoditas unggulan, seperti padi, jagung, dan aneka sayuran hortikultura.
“Pembangunan jalan ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga bentuk nyata keberpihakan pemerintah kepada petani,” lanjut Edy.
Ia menyebut, dampak lain dari terbukanya akses ini adalah tumbuhnya semangat gotong royong yang kembali hidup di tengah masyarakat. Mulai dari perangkat desa, petani, hingga personel TNI turut terlibat dalam pembukaan akses jalan tersebut.
Lebih jauh, kawasan pertanian ini diproyeksikan menjadi salah satu pusat produksi pangan di wilayah hulu Kukar, seiring meningkatnya intensitas tanam dan mobilitas distribusi hasil panen.
Menurut Edy, peran petani dan pemerintah desa akan semakin strategis untuk mendorong keberlanjutan program ini, terutama dalam menjaga infrastruktur dan meningkatkan produktivitas.
“Gotong royong kembali kami hidupkan bersama TNI, perangkat desa, dan para petani. Ini bukti bahwa kemandirian bisa dimulai dari jalan kecil yang dibuka dengan niat besar,” tutupnya. (Adv)















