KUKAR – Persoalan sampah yang belum tertangani secara optimal mendorong Pemerintah Desa Kota Bangun Ulu, Kecamatan Kota Bangun, untuk mencari langkah strategis dan berkelanjutan. Salah satunya dengan mengusulkan pembangunan Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) sebagai solusi jangka panjang.
Selama ini, penumpukan sampah kerap terjadi karena kurangnya sarana dan prasarana penunjang. Upaya pengendalian telah dilakukan dengan menetapkan jadwal pembuangan terbatas, yakni pukul 06.00 hingga 09.00 WITA, agar tidak terjadi lonjakan sampah dari dua desa yang menggunakan lokasi pembuangan yang sama.
Kepala Desa Kota Bangun Ulu, Khairul Umam, menjelaskan bahwa masalah ini tidak bisa dibiarkan terus berlangsung. Selain jarak Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang cukup jauh di Desa Loleng, keterbatasan kapasitas juga memperparah kondisi lapangan.
“Selama ini warga hanya mengandalkan satu titik buang, sementara volume terus meningkat. Padahal alat berat mini yang ada juga tidak bisa optimal mengatasi beban sampah yang menumpuk,” ujarnya, Kamis (26/6/2025).
Ia menyebutkan bahwa pihak desa telah menjalin koordinasi dengan kecamatan dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kukar untuk merumuskan langkah konkret. Salah satunya adalah permintaan dukungan armada pengangkut dari DLHK yang saat ini bersifat sementara.
Namun, Khairul menilai dukungan teknis saja tidak cukup. Diperlukan pola pengelolaan yang lebih partisipatif dan edukatif, agar masyarakat turut terlibat dalam proses pengurangan dan pemilahan sampah dari sumbernya. Itulah mengapa pembangunan TPS3R menjadi prioritas dalam usulan mereka.
“TPS3R ini bukan hanya soal infrastruktur, tapi pola pikir warga juga harus dibangun. Sampah bukan cuma dibuang, tapi harus dikelola, dimanfaatkan kembali, dan mengurangi dampaknya terhadap lingkungan,” jelasnya.
Gagasan ini pun telah diajukan secara resmi ke DLHK Kukar. Dalam konsep yang disampaikan, pengelolaan TPS3R akan melibatkan warga setempat, baik dalam operasional harian maupun dalam upaya sosialisasi tentang pemilahan sampah.
Khairul berharap, jika usulan ini terealisasi, akan ada perubahan signifikan dalam pola penanganan sampah di tingkat desa. Ia juga mendorong agar semua pihak, termasuk BUMDes, RT, dan lembaga desa lainnya bisa ikut ambil bagian dalam pengelolaan.
“Kalau semua bergerak, beban bisa ringan. Kita tidak hanya menunggu bantuan, tapi juga siap mengelola secara mandiri,” ungkapnya. Ia optimistis, dengan pendekatan berbasis komunitas, masalah sampah di Kota Bangun Ulu bisa diurai satu per satu.
“Semua sudah kita koordinasikan. Sekarang tinggal menunggu bagaimana komitmen bersama untuk merealisasikannya,” tutup Khairul. (Adv)















