KUKAR – Kelurahan Maluhu berhasil meraih prestasi membanggakan dalam Jambore Bunda PAUD tingkat Kabupaten Kutai Kartanegara yang digelar di Kecamatan Kota Bangun. Dalam ajang lomba Apresiasi Bunda PAUD, Maluhu keluar sebagai juara pertama berkat inovasi program transisi dan kepedulian terhadap lingkungan.
Kemenangan ini tidak datang secara tiba-tiba. Sejak dua tahun terakhir, Kelurahan Maluhu aktif mengembangkan program transisi pendidikan anak usia dini (PAUD) ke jenjang sekolah dasar secara lebih terstruktur dan melibatkan banyak pihak.
Lurah Maluhu, Tri Joko Kuncoro, menyampaikan bahwa proses peralihan anak-anak dari PAUD ke SD merupakan tahap penting yang harus dilalui dengan pendampingan. Ia juga menyampaikan bahwa kelancaran adaptasi anak menjadi perhatian utama semua unsur pendidikan di wilayahnya.
“Di awal tahun ajaran, guru PAUD mendampingi langsung anak-anak ke SD. Mereka diajak mengenal lingkungan sekolah agar tidak merasa asing,” ujarnya, Rabu (2/7/2025).
Langkah itu tak hanya menumbuhkan kepercayaan diri anak-anak, tetapi juga memudahkan guru SD dalam proses pengenalan karakter siswa baru. Praktik ini dilakukan rutin setiap tahun dan menjadi bagian dari budaya pendidikan di Maluhu.
Selain itu, inovasi seperti Sajadah Sampah Jadi Berkah ikut menguatkan nilai edukatif yang diterapkan sejak usia dini. Melalui program ini, anak-anak dilatih memilah sampah dan menyetor ke bank sampah, sekaligus mengenal nilai tanggung jawab lingkungan sejak kecil.
“Anak-anak belajar bahwa membuang sampah dengan benar itu bagian dari sikap hidup. Mereka diajak memilah sampah organik dan non-organik, lalu menabung di bank sampah,” terang Tri Joko.
Program lain yang menjadi unggulan Maluhu adalah Rumah Sikap. yaitu sarana pembelajaran yang menyesuaikan aktivitas anak dengan tahap usia. Di tempat ini, anak-anak dibimbing melalui panduan yang telah dirancang untuk menstimulasi perkembangan mereka secara bertahap.
“Setiap anak berbeda, jadi kita buat panduan berdasarkan kelompok usia. Anak-anak belajar sesuai dengan masa tumbuh kembangnya,” katanya.
Penilaian lomba bukan hanya soal dokumentasi kegiatan, tetapi juga konsistensi dan dampak positif program terhadap anak-anak. Kolaborasi yang dijalankan bersama guru TK, SD, kader PKK, dan warga dinilai sebagai kekuatan utama dari keberhasilan ini.
“Ini bukan kerja satu dua orang. Semua terlibat, saling bantu, dan punya semangat yang sama: memastikan anak-anak Maluhu dapat pendidikan yang terbaik,” tutup Tri Joko. (Adv)















