Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai maraknya kasus bunuh diri belakangan ini, termasuk di Samarinda, bukanlah fenomena baru. Menurutnya, kasus serupa sudah lama terjadi di Indonesia maupun dunia, namun kini ikut meningkat di Samarinda.
“Fenomena ini bukan hanya di Samarinda. Memang di sini belakangan meningkat, tapi di Indonesia sudah banyak terjadi, apalagi di luar negeri,” ujarnya (10/8/2025).
Sri Puji menilai modernisasi dan digitalisasi di berbagai aspek kehidupan tidak selalu diiringi dengan penguatan mental dan spiritual.
“Lemahnya pegangan hidup akibat minimnya pemahaman agama atau kepercayaan membuat sebagian orang kehilangan arah dan memilih bunuh diri sebagai jalan pintas,” terangnya.
Ia menyayangkan dampak besar yang ditimbulkan, tidak hanya bagi korban, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar. Meski pemerintah telah melakukan pencegahan melalui sosialisasi di sekolah hingga program Unit Kesehatan Sekolah (UKS) dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), kasus gangguan kesehatan mental tetap meningkat.
Sri Puji menekankan pentingnya membangun ketahanan diri sejak dini, dengan dukungan orang tua, masyarakat, dan pemerintah.
“Ya puskesmas di Samarinda juga memiliki program parenting dan edukasi untuk anak serta remaja guna memperkuat psikologis dan moral generasi muda,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda)















