Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menilai keputusan sebagian anak muda untuk menunda pernikahan adalah langkah positif selama didasari pertimbangan matang. Menurutnya, keputusan tersebut mencerminkan pola pikir moderat dan rasional karena mempertimbangkan risiko serta tantangan hidup di masa depan.
“Kalau dia menunda menikah berarti bagus, ada pemikiran yang lebih moderat karena mungkin ada hal-hal negatif yang bisa mempersulit kehidupan mereka nanti,” ujarnya di Kantor DPRD Kota Samarinda, (11/8/2025).
Sri Puji mengungkapkan, DPRD Samarinda pernah mengusulkan ranperda pencegahan pernikahan usia anak, meski hingga kini belum masuk Program Pembentukan Peraturan Daerah (Pro-Pemda).
Ia menilai, pernikahan di usia muda berpotensi menimbulkan masalah, mulai dari ketidakstabilan ekonomi, ketidakmatangan emosional, hingga beban tanggung jawab rumah tangga yang besar.
“Biasanya pasangan muda belum punya penghasilan tetap, masih ikut orang tua, atau secara emosional belum matang. Menikah itu butuh kesiapan mental, emosional, dan ekonomi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa tantangan rumah tangga tidak hanya soal kebutuhan sehari-hari, tetapi juga biaya pendidikan anak, jaminan kesehatan, perumahan, dan lingkungan hidup yang layak.
Sri Puji mengapresiasi anak muda yang memilih menunda atau bahkan tidak menikah sama sekali.
“Kalau mereka tidak mau menikah, bagus, berarti mereka berpikiran modern,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda)















