TENGGARONG – Keberhasilan atlet Kutai Kartanegara (Kukar) di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) 2025 kembali mengangkat nama daerah sebagai lumbung prestasi muda. Namun di balik kilau medali, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kukar mengakui masih ada tantangan besar yang harus dihadapi: keterbatasan anggaran menjelang Porprov 2026.
Ketua KONI Kukar, Chairil Anwar, menegaskan bahwa peran mereka dalam Popda bersifat pengawasan, sedangkan hal teknis berada di bawah kendali pemerintah daerah melalui Dispora.
“Secara teknis Popda bukan ranah kami, mungkin lebih ke Dispora. Kami hanya mengawasi dan melihat perkembangan atlet,” ujarnya.
Raihan 18 medali dari cabang Kempo menjadi salah satu pencapaian paling menonjol pada Popda tahun ini. Cabang Silat dan Atletik pun ikut menyumbang prestasi, menunjukkan potensi besar yang dimiliki Kukar dalam menghadapi Porprov 2026 di Kabupaten Paser.
“Hasil ini jadi modal kami ke Porprov mendatang. Sudah cukup menjanjikan,” tambah Chairil.
Meski optimistis, Chairil tidak menutup mata terhadap persoalan klasik yang berulang dari tahun ke tahun: anggaran pembinaan atlet yang masih jauh dari ideal. Ia menyebut kondisi ini tidak hanya terjadi di Kukar, tetapi juga dialami banyak daerah lain di Indonesia.
KONI Kukar bahkan telah bertemu Ketua DPRD untuk membahas kesiapan pendanaan jelang Porprov. Namun hingga kini, kebutuhan anggaran masih dinilai belum mencukupi.
“Anggarannya masih tertatih-tatih. Tapi kami maklum, bukan hanya Kukar, kondisi ini terjadi hampir di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Meski begitu, KONI tetap menilai hasil Popda sebagai sinyal positif bahwa regenerasi atlet berjalan baik. Dengan pembinaan yang konsisten, KONI Kukar berharap potensi atlet muda dapat terus berkembang meski berada di tengah keterbatasan.















