KUKAR – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berupaya memperkuat pasokan bahan pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Salah satu langkah yang disiapkan pada 2027 ialah meningkatkan kemampuan penggilingan padi agar dapat menghasilkan beras premium.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kukar, Ananias, mengungkapkan bahwa pemenuhan sejumlah komoditas untuk dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, terutama beras premium dan kentang.
Ananias bilang, keterbatasan fasilitas penggilingan padi menjadi salah satu kendala yang perlu dibenahi agar produksi beras lokal mampu memenuhi standar kebutuhan dapur MBG.
“Untuk 2027, sudah ada anggaran dari Pak Bupati untuk meningkatkan kemampuan penggilingan padi yang ada di Kukar. Kami ingin fasilitas tersebut bisa menghasilkan beras premium sehingga kebutuhan dapur MBG dapat dipasok dari daerah sendiri,” kata Ananias, Senin (19/10/2026).
Ia menjelaskan, peningkatan fasilitas penggilingan tersebut diarahkan untuk mendukung ketersediaan beras premium bagi dapur SPPG di berbagai wilayah Kukar. Dengan demikian, potensi produksi padi lokal diharapkan dapat terserap lebih optimal.
Selain beras, kata dia, kentang juga menjadi komoditas yang pemenuhannya masih menghadapi keterbatasan. Disketapang Kukar pun menjajaki penggunaan bahan pangan pengganti yang memiliki kandungan gizi mendekati kentang sekaligus dapat diproduksi petani setempat.
Ananias menyebut, pemanfaatan pangan substitusi menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi ketergantungan terhadap komoditas dari luar daerah. Jenis bahan pangan yang digunakan nantinya perlu mempertimbangkan kandungan gizi, ketersediaan pasokan, dan penerimaan menu oleh penerima manfaat.
“Kami mendorong agar bahan pangan yang belum tersedia cukup di daerah bisa diganti dengan komoditas lain yang nilai gizinya sesuai. Misalnya ubi jalar atau sayuran lain yang bisa dibudidayakan petani lokal,” jelasnya.
Di sisi lain, program MBG mulai membuka peluang pasar bagi sejumlah komoditas yang dihasilkan masyarakat Kukar. Salah satu sektor yang disebut telah merasakan manfaatnya ialah peternakan ayam petelur, dengan sejumlah peternak lokal memasok telur ke dapur-dapur SPPG.
Ananias berharap peluang tersebut dapat diperluas ke sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Menurutnya, kebutuhan pangan dalam jumlah besar melalui program MBG seharusnya dapat menjadi kesempatan bagi pelaku usaha lokal untuk meningkatkan produksi sekaligus memperluas pemasaran.
“Peternak ayam petelur kita sudah mulai memasok kebutuhan dapur SPPG. Ke depan, kami ingin petani, peternak, dan pembudidaya ikan juga mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi pemasok,” tutupnya. (Adv)















