Samarinda – Gerakan mahasiswa nasional indonesia (GmnI) yang berada di Samarinda, Kalimantan Timur yakni komisariat pertanian Universitas Mulawarman sukses menggelar agenda Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB) pada kamis (23/05/2024).
PPAB adalah agenda rutin setiap komisariat hingga cabang gmni di seluruh Indonesia agar mahasiswa mampu memahami fungsi, peran, tugas serta visi dan misi organisasi sehingga terbentuklah pemahaman mengenai gmni itu.
Ketua panitia PPAB, Ahmad Noor Huda mengemas PPAB yang dilaksanakan oleh komisariatnya dengan relevansi zaman modern sehingga mahasiswa dapat bergerak dibidang studi mereka tanpa mengesampingkan perjuangan-perjuangan dan ideologi dasar gmni.
“Komisariat Pertanian ingin menciptakan kader-kader untuk GMNI Yang sesuai dengan tema kegiatan,yaitu Menciptakan kader-kader GMNI yang memiliki jiwa marhenisme dan jiwa nasionalisme,” jelas Huda pada awak media.
Menurut mahasiswa jurusan agroekoteknologi unmul itu, marhaenisme memiliki relevansi untuk menjawab tantangan zaman di era kapitalisme global, sebab marhaenisme menekan beberapa prinsip kunci seperti keadilan sosial, distribusi kekayaan yang merata hingga kepada pentingnya pendidikan.
“Jangan sampai ideologi yang kita punya itu terpengaruh oleh budaya asing ataupun ideologi-ideologi yang dari luar,” imbuhnya.
Ia sendiri optimis dengan materi nasionalisme, gerakan sejarah mahasiswa, marhaenisme, ke-gmni-an, kesarinahan, dan tema khusus pertanian yakni agraria dan pertanian berkelanjutan dapat membantu mengembangkan pola pikir anggota baru yang akan bergabung bersamanya.
Tidak hanya itu, Ketua Komisariat Pertanian Unmul, Charles Alfredo berpesan agar mahasiswa yang bergabung dapat pemahaman yang ingin mereka kembangkan khususnya dibidang studi mereka masing-masing dengan mengindahkan visi misi organisasi.
“Fokus bicara soal susunan agrikultur jadi bagaimana kita menuntaskan masalah-masalah pertanian Indonesia dan juga terus mengembangkan visi kita di dalam bidang pertanian agar pertanian Indonesia itu tidak kemudian menurunkan intensitasnya,” jelas mahasiswa yang kerap disapa bung alfred tersebut.
Alfred juga ingin dalam PPAB kali ini mampu mematangkan pemahaman ideologi dengan memoptimalkan kemampuan para mahasiswa di Lapangan bersama petani.
“Kembali di lapangan nanti teman-teman mampu kemudian memperjuangkan beberapa hal-hal yang mungkin ditemui di lapangan bersama para petanibelakangan ini, kita lihat ada juga beberapa petani yang kesulitan dengan situasi pertanian Indonesia hari ini mulai dari subsidi dan distribusi yang kemudian mapet,” ujarnya.
PPAB kali ini dilaksanakan atas dasar keinginan komisariat pertanian sehingga mahasiswa berjuang di dalam marhaenisme namun tidak melupakan jenjang studi sebagai pedoman keilmuan, sehingga terjadi penyelarasan antara ideologi dan studi dalam sebuah gerakan. (Kurniawan)















