Samarinda – Kontroversi muncul setelah salah satu universitas di Samarinda mengundang petinggi TNI sebagai pembicara dalam kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB).
Menanggapi hal ini, Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Anhar, menilai polemik tersebut seharusnya menjadi momentum memperkuat komunikasi antara kampus, mahasiswa, dan narasumber.
Menurut Anhar, dunia kampus memiliki dinamika tersendiri yang perlu dipahami semua pihak. Karena itu, ia mendorong keterbukaan dari kedua belah pihak.
Kampus, kata dia, harus memberi ruang bagi beragam narasumber, termasuk dari TNI dan Polri. Sebaliknya, TNI dan Polri juga perlu menyesuaikan pendekatan saat berbicara di hadapan mahasiswa.
“Kalau hadir di kampus, mereka harus paham sedang berada di ruang akademik yang terbuka, bukan di barak. Begitu juga mahasiswa, ini kesempatan mengukur kemampuan komunikasi, narasi, dan intelektual,” jelasnya.
Ia menegaskan, tujuan utama PKKMB adalah memperkaya wawasan mahasiswa baru dari berbagai perspektif. Kehadiran narasumber dari latar belakang militer, menurutnya, justru bisa memberikan nilai tambah, terutama dalam hal wawasan kebangsaan dan bela negara.
“Kalau dikelola dengan baik, pertemuan seperti ini bisa jadi ruang dialog yang sehat, bukan sekadar ajang seremonial atau sumber polemik,” pungkasnya. (Adv/DPRD Samarinda)















