KUKAR – Petani di Desa Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, masih menghadapi persoalan serius dalam kegiatan bercocok tanam akibat minimnya infrastruktur irigasi. Ketergantungan terhadap curah hujan membuat panen padi tidak stabil, bahkan berisiko gagal saat musim kemarau tiba.
Kepala Desa Loa Raya, Martin, mengungkapkan bahwa sekitar 30 hektare lahan pertanian di wilayahnya masih bergantung sepenuhnya pada air hujan. Hal ini menyebabkan hasil panen sering tidak maksimal dan sulit diprediksi.
“Kalau kemarau datang, banyak petani yang tidak menanam karena takut gagal panen. Pendapatan mereka pun jadi tidak menentu,” kata Martin saat ditemui pada Senin (16/6/2025).
Menurutnya, sebagian petani bahkan terpaksa mengurangi luas tanam untuk menghindari kerugian lebih besar. Kondisi tersebut tentu berdampak langsung terhadap ekonomi keluarga petani yang menggantungkan hidup dari sektor pertanian.
Persoalan makin kompleks karena wilayah desa belum dilengkapi saluran irigasi permanen. Letak geografis dan infrastruktur pendukung yang belum memadai membuat distribusi air tidak merata ke seluruh lahan pertanian.
Martin menilai, ketergantungan terhadap alam tidak bisa terus dibiarkan. Perlu langkah nyata dan kolaboratif antara pemerintah desa, instansi teknis, dan pemangku kepentingan lainnya agar masalah ini bisa ditangani secara tuntas.
Ia menambahkan, pemanfaatan teknologi pertanian dan pembangunan irigasi menjadi salah satu solusi jangka panjang yang dibutuhkan. Namun untuk mewujudkannya, dibutuhkan dukungan anggaran dan perhatian dari pemerintah daerah.
“Pertanian adalah sumber utama penghidupan masyarakat kami. Kalau irigasi tidak segera dibenahi, petani akan terus berada dalam ketidakpastian,” pungkasnya. (Adv)















