KUKAR – Inisiatif dua Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kutai Kartanegara mulai menciptakan paradigma baru dalam dunia pendidikan vokasi. SMK Negeri 2 Sebulu dan SMK Negeri 3 Tenggarong Seberang bukan lagi sekadar mencetak lulusan siap kerja, tetapi berupaya membentuk generasi petani muda yang adaptif dan melek pasar melalui program hilirisasi kopi.
Langkah ini tak hanya mengangkat kembali potensi lokal di sektor perkebunan, tapi juga menanamkan semangat kewirausahaan sejak dini. Saat dikonfirmasi media ini pada Saat diwawancarai Sabtu (21/6/2025), Sekretaris Daerah Kukar, Sunggono, menilai bahwa program ini sejalan dengan kebutuhan daerah untuk mencetak sumber daya manusia yang berdaya saing.
Sunggono mengungkapkan bahwa selama ini kopi belum dipandang sebagai komoditas strategis dalam rencana pembangunan. Namun inisiatif dari dunia pendidikan justru membuka peluang baru yang tak terduga.
Ia telah bertemu langsung dengan pihak sekolah dan menyaksikan bagaimana pengolahan kopi dikembangkan dari hulu ke hilir, mulai dari budidaya hingga pemasaran. Program ini bahkan mengajarkan siswa membangun merek sendiri dan memahami pasar kopi sebagai bagian dari gaya hidup modern.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan dua SMK tersebut tidak berhenti pada keterampilan teknis. Ada nilai lebih berupa penanaman karakter wirausaha, yang penting dalam menciptakan regenerasi petani yang tangguh dan mandiri.
“Bayangan saya, lulusan SMK ini tidak hanya tahu cara menanam kopi, tapi juga bisa mengelola bisnis kopinya sendiri. Mereka harus jadi pionir pertanian modern,” ujarnya.
Lebih lanjut Sunggono, juga menyambut baik langkah-langkah inovatif seperti ini. Ia memastikan bahwa dukungan akan terus diberikan, terutama pada program vokasi yang menghubungkan langsung antara keterampilan siswa dan peluang ekonomi lokal.
Program hilirisasi ini, katanya, bisa menjadi model pembelajaran yang membumi. Tak hanya memberi ilmu, tapi juga membuka jalan agar lulusan tidak tergantung pada lapangan kerja formal semata.
“Kita ingin pendidikan vokasi ini menyentuh realitas. Kalau bisa membentuk pelaku usaha sejak bangku sekolah, itu akan jauh lebih berdampak,” ucapnya.
Hilirisasi kopi dianggap sebagai titik awal. Di masa mendatang, pemerintah berharap lebih banyak komoditas lokal bisa dikembangkan dengan pola serupa, menjadikan sekolah sebagai ruang inkubasi inovasi yang berbasis potensi wilayah.
“Anak-anak kita perlu disiapkan untuk zaman yang berubah cepat. Dan ini bukan soal kopi saja, tapi soal bagaimana mereka membangun masa depan dari sumber daya yang ada di sekitarnya,” tutupnya. (Adv)















