KUKAR – Sebanyak 65 unit bank sampah yang tersebar di 20 kecamatan menjadi tumpuan Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) dalam mengurangi jumlah sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA).
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) DLHK Kukar, Tri Joko Kuncoro, mengatakan pengurangan sampah perlu dimulai dari sumbernya. Rumah tangga dinilai memiliki peran penting dalam menentukan jumlah sampah yang akhirnya harus ditangani petugas dan dibawa ke TPA.
Ia menjelaskan, sampah yang masih memiliki nilai ekonomi sebaiknya dipisahkan agar dapat dimanfaatkan kembali atau disalurkan untuk kegiatan daur ulang.
Sementara itu, kata dia, sampah residu yang tidak dapat diolah tetap memerlukan penanganan sesuai ketentuan.
Tri Joko menilai, ketergantungan pada sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah saja belum cukup untuk mengatasi persoalan persampahan. Tanpa pemilahan sejak awal, volume sampah yang masuk ke TPA akan terus bertambah.
“Pengelolaan sampah harus dimulai dengan mengubah kebiasaan masyarakat. Jangan hanya mengumpulkan, mengangkut, lalu membuang, tetapi kita harus membiasakan memilah dan mengolah sampah agar jumlah yang masuk ke TPA bisa dikurangi,” ucap Tri Joko
Dia bilang upaya menjaga kebersihan lingkungan juga perlu disertai penanganan sampah setelah dikumpulkan.
Dengan demikian, lanjutnya, penyelesaian persoalan sampah tidak berhenti pada pembersihan kawasan permukiman, tetapi berlanjut hingga proses pengolahan.
DLHK Kukar terus mendorong optimalisasi bank sampah yang telah beroperasi agar semakin banyak material yang dapat dimanfaatkan kembali.
Menurutnya, selain mengurangi timbulan sampah, langkah ini juga membuka peluang bagi masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari sampah yang memiliki nilai jual.
“Kita tidak bisa hanya berfokus pada penanganan sampah di permukiman, tetapi juga harus memikirkan kondisi di hilir. Kalau semuanya dibawa ke TPA tanpa pengurangan, bebannya akan semakin besar,” tegas Tri Joko.
Melalui penguatan bank sampah dan pembiasaan memilah sampah dari rumah, Tri Joko berharapa pengelolaan persampahan dapat berjalan lebih efektif. Keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting agar sampah yang masih bernilai tidak terbuang percuma dan beban TPA dapat ditekan secara bertahap. (Adv)















